Friday, 23 March 2012

0 10 pekara yang di pandang ringan



SEBAB HATI MATI

Ibrahim b. Adham sedang berjalan-jalan di negeri Bashrah. Penduduk Bashrah melihatnya segera datang, dan bertanya,

"Ya Ibrahim, mengapa doa kami tidak dimakbulkan, padahal Allah telah berfirman, 'Apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakan bahawa aku dekat. Aku memakbulkan doa orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepadaKu...'2:186."

Lantas Ibrahim menjawab, "Wahai penduduk Bashrah, hal itu adalah kerana HATI kalian TELAH MATI dengan 10 perkara. Jika begitu, bagaimana ALLAH akan memakbulkan doa kalian?" "Ya Ibrahim, apakah 10 perkara itu?" Tanya penduduk Bashrah....

Kalian kenal ALLAH tetapi tidak menunaikan hak-hakNYA.
Kalian membaca ALQURAN tetapi tidak mengamalkan isi-isinya.
Kalian mengakui cintai RASULULLAH tetapi tidak amalkan sunnahnya.
Kalian mengakui membenci SYAITAN tetapi menuruti ajakannya.
Kalian mengakui ingin masuk SYURGA tetapi tidak memenuhi syarat-syaratnya.
Kalian mengakui ingin selamat dari api NERAKA tetapi kalian menjerumuskan diri ke dalamnya.
Kalian meyakini kepastian KEMATIAN tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kalian sibuk membicarakan KEBURUKAN ORANG tetapi kalian mengabaikan keburukan sendiri.
Kalian MENGUBURKAN orang mati tetapi kalian tidak mengambil pengajaran daripadanya.
Kalian mendapat NIKMAT ALLAH tetapi tidak pernah mensyukurinya.

Dan cara untuk menghidupkan semula hati yang sudah mati 
atau cara untuk mengelakkan hati daripada mati ialah dengan 
perbanyakkan mengingati ALLAH swt di dalam hati dengan zikirullah atau solat dan ikhlas di dalam setiap amal 

wallahhualam 

inshaallah ...

Tuesday, 20 March 2012

0 Sifat takut (khauf) dan harap (raja’)



Sifat takut (khauf) dan harap (raja’), perlu subur dalam jiwa seorang mukmin. Takut kepada Allah, takut akan azab-Nya. Tidak takut kepada selain-Nya.
Mengharap kepada Allah, kepada rahmat-Nya dan pertemuan dengan-Nya.
Sifat ini perlu disebatikan dalam diri, agar laluan menuju akhirat tidak terpesong.

Dua sifat ini perlu disatukan, tidak sempurna andai tiada salah satu.
Sifat takut tanpa harap, dikhuatiri membawa kepada putus asa.
Sifat berharap tanpa takut, dikhuatiri membawa kepada tertipu.

Harapkan pahala apabila melakukan ibadat, tetapi tidak berjaga-jaga dalam menjauhkan diri daripada sifat riya’ dan bisikan syaitan, maka ibadat itu hanya sia-sia. Sesungguhnya riya’ itu adalah syirik khafi, syirik yang tersembunyi. Betapa penting buat seorang mukmin itu untuk sentiasa menjaga niatnya.

Firman Allah Ta’ala: 
Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadat kepada Tuhannya.
(Al-Kahfi: 110)

Inilah harapan, cita-cita mahupun kehendak yang paling utama buat seorang mukmin. Harapan untuk bertemu dengan Al-Khaliq, dan kekasihnya Muhammad s.a.w. di syurga. Tiada yang paling didambakan melainkan ini. Tiada yang lebih membahagiakan melainkan ini.

Maka demi Pertemuan Agung, bayarannya adalah amal saleh yang dihiasi ikhlas. Inilah bekalan kita, dengan itu redha dan rahmat Allah dapat diraih.

Taubat

Daripada Anas r.a. katanya: “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Allah s.w.t. telah berfirman:
Wahai anak Adam! Sesungguhnya selagimana kamu meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni segala dosa yang telah kamu lakukan dan Aku tidak pedulikannya lagi.

Dosa seorang hamba yang begitu banyak bukanlah suatu yang besar bagi Allah, selagimana dia bertaubat dan berharap kepada Allah. Usah kita terpedaya dengan bisikan syaitan, yang berusaha agar kita putus asa terhadap rahmat-Nya.

Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali syirik). Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Az-Zumar:53)

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).
(Az-Zumar:54)

Usah diperdaya oleh syaitan dan angkatan manusianya yang ingin melihat kita sentiasa berasa lemah. Kuatkan diri untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan, kembali ke jalan benar.

Firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(Hud:114)





Teladan

Imam Syafi’e rahimahullah berkata ketika menghadapi sakit yang membawa kepada kematiannya:

Ketika hatiku menjadi keras dan pernafasanku sempit,
Aku menjadikan harapan untuk mencapai keampunan-Mu sebagai tangga.
Dosaku sangat besar, namun ketikaku bandingkan,
Ternyata keampunan daripada Tuhanku adalah lebih besar. 

Betapa ulama’ hebat seperti beliau, memiliki sifat takut terhadap Allah, apatah lagi buat kita, yang seharusnya memiliki lebih sifat takut kepada Allah, disebabkan dosa-dosa yang tidak terhitung.

Monday, 19 March 2012

0 jenis hati




الْبِرُّ حُسْنُ الخُلُقِ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلی الله عليه و سلم فَقَالَ: جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ الْبِرِّ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: اسْتَفْتِ قَلْبَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَيْنَاهُ فِي مُسْنَدَي الإِمَامَيْنِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ وَالدَّارِمِيِّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Daripada al-Nawwas ibn Sam’aan r.a. daripada Nabi SAW baginda bersabda:Kebajikan itu ialah keelokan budi pekerti dan dosa itu ialah apa yang tergetar dalam dirimu dan engkau benci orang lain mengetahuinya. (Hadis riwayat al-lmam Muslim.)

Dan daripada Waabisoh ibn Ma’bad r.a. beliau berkata: Aku telah menemui Rasulullah SAW lalu Baginda bersabda:

Engkau datang mahu bertanya tentang kebajikan? Aku berkata: Ya. Baginda bersabda: Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu ialah suatu perkara yang diri dan hati merasa tenang tenteram terhadapnya, dan dosa itu itu ialah suatu perkara yang tergetar dalam dirimu dan teragak-agak di hati, sekalipun ada orang yang memberikan fatwa kepadamu dan mereka memberikan fatwa kepadamu.
 (Hadis Hasan riwayat al-lmam Ahmad dan al-Daarimie dengan isnad yang baik.)


Di antara kandungan hadits Arba’in Nawawiyyah yang ke-27 ini, adalah penjelasan Rasulullah bahwa seorang sahabatnya, Wabishah bin Ma’bad ra,  diperintahkan beliau saw untuk berfatwa kepada hatinya,iaitu mengikuti “suara” hatinya tersebut dan meninggalkan fatwa-fatwa yang diberikan oleh orang lain. Dan bahawasanya “suara” hatinya itu merupakan kayu ukur baginya untuk menilai apakah sesuatu itu merupakan kebajikan atau merupakan dosa.

Jika hatinya merasa tenang, nyaman, tenteram dan mantap, tidak ada keraguan, tidak ada bolak balik dan tidak ada kekhawatiran atau ketakutan bila terlihat oleh orang lain, maka hal itu merupakan kebajikan. Sementara, jika terjadi sebaliknya, maka itu pertanda bahwa perkara yang akan dia lakukan itu adalah dosa.

Hal ini didasarkan kepada sabda Rasulullah: Dan dari Wabishah bin Ma'bad ra, ia berkata, "Saya mendatangi Rasulullah saw, lalu beliau bertanya, 'Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?' Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, 'Mintalah fatwa kepada hatimu; kebajikan adalah sesuatu yang jiwamu tenteram kepadanya dan hatimu menjadi tenang, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam jiwa dan ragu di dada, meski manusia memberi fatwa kepadamu.” (Imam Nawawi berkata, "Hadits hasan, kami meriwayatkannya dalam dua kitab Musnad; Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan isnad hasan.")

 

Tiga Macam Hati


 

Hadits Wabishah bin Ma’bad ra secara lahiriah dipahami bahwa fatwa “suara” hati lebih dikedepankan daripada fatwa mufti.

Lantas, perlu diketahui pula bahawa berdasarkan kajian terhadap Al-Qur’an ataupun hadits Rasulullah, dapat disimpulkan ada tiga macam hati, iaitu:

 

1.     Al-Qalbu Al-Salim (hati yang sehat)

 

Secara harfiyah (lateral) istilah qalbun salim disebut dua kali dalam Al-Qur’an, dan keduanya terkait dengan cerita Nabi Ibrahim as, yaitu pada QS Asy-Syu’ara (26): 89 dan QS Ash-Shaffat (37): 84.

Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikannya sebagai berikut, “Iaitu hati yang selamat dari segala syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah swt, yang selamat dari segala bentuk syubhat yang menjadikannya menentang segala berita dan informasi yang datang dari Allah, sehingga hati tersebut selamat dari penghambaan kepada selain Allah, juga selamat dari bertahkim kepada selain Rasulullah.”

Masih menurut Ibnu Qayyim, “Secara global, hati yang salim yang shahih adalah hati yang selamat dari segala bentuk penyekutuan (syirik) dalam bentuk apa pun kepada selain Allah serta tulus murni semata-mata menghambakan diri kepada Allah, baik dalam hal kehendak, tawakal, cinta, kembali, tunduk, khusyu, takut dan harap.”

Hati yang seperti ini disebutkan Rasulullah sebagai hati yang putih, bersih, bening nan jernih. Sebentuk hati yang jika berhadapan dengan fitnah, ujian, cobaan dan godaan apa pun—baik fitnah yang berupa ancaman, siksaan, penderitaan dan semacamnya, maupun fitnah dalam bentuk godaan, iming-iming, harta, wanita dan tahta—ia tidak akan bergeming, tergoda maupun goyah atau limbung. Ia tetap dalam keimanan, keislaman dan keistiqamahannya.

Rasulullah bersabda, “Berbagai macam fitnah akan dihadapkan kepada hati, seperti tikar, anyamannya satu satu. Maka, hati yang menyerap fitnah itu akan ternoda hitam dan hati yang menolak fitnah itu akan ditambah sinar kecemerlangannya. Sehingga jadilah hati itu dua macam; ada yang putih seperti batu pualam yang tidak ternoda oleh fitnah apa pun selama masih ada langit dan bumi. Sedangkan lainnya adalah hati yang hitam legam, mirip teko yang tertelungkup, yang tidak lagi mengenal yang ma’ruf dan tidak lagi mengingkari yang munkar selain yang sesuai dengan hawa nafsunya” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim, hadits no. 207).

 

2.     Al-Qalbu Al-Qasi (hati yang keras atau mati)

 

Maksudnya adalah hati yang keras atau mengeras. Istilahnya dalam Al-Qur’an qasat qulubuhum, sebagaimana terdapat dalam QS Al-An’am (6): 43, atau QS Al-Hadid (57): 16. Hati yang seperti ini juga disebut oleh Al-Qur’an sebagai Al-Qalbu Al-Mayyit (hati yang mati), sebagaimana diisyaratkan dalam QS Al-An’am: 122.

Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikannya, “Hati yang menghambakan diri kepada selain Allah swt, baik dari sisi cinta, takut, harap, ridha dan benci; jika ia membenci sesuatu, ia membencinya karena hawa nafsunya, jika ia mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsunya, jika ia memberikan sesuatu karena hal itu sesuai dengan hawa nafsunya, jika ia menahan sesuatu dan tidak memberikannya, hal itu ia lakukan karena hawa nafsunya.”

Ibnul Qayyim melanjutkan, “Jadi, hawa nafsu adalah imamnya, dan syahwat adalah komandannya, kebodohan merupakan sopirnya, dan ghaflah (lalai dari Allah swt) adalah kendaraannya.”

Hati yang seperti ini, oleh hadits Rasulullah saw, seperti tersebut tadi, dinyatakan sebagai  hati yang hitam legam, tidak lagi mengenal al-ma’ruf sebagai ma’ruf dan tidak lagi mengingkari yang munkar. Ia hanya mengikuti hawa nafsunya.

 

3.      Al-Qalbu Al-Maridh (hati yang sakit)

Pada dasarnya, hati yang sakit adalah hati yang masih memiliki kehidupan, hanya saja ia terhinggapi penyakit. Parah atau tidaknya kondisi hati ini bergantung kepada tingkat penyakit yang menghinggapinya.

Hati yang seperti ini oleh Al-Qur’an diistilahkan dengan fi qulubihim maradhun (di dalam hatinya terdapat penyakit), sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah (2): 10, QS Al-Maidah (5): 52, QS Al-Anfal (8): 49 dan sebagainya.

Terkait dengan hal ini, Ibnul Qayyim menjelaskan, “Pada dasarnya, di dalam hati yang sakit ini terdapat cinta kepada Allah swt dan keimanan kepada-Nya, dan hal ini merupakan daya hidupnya. Namun, di dalam hati ini pun terdapat kecintaan terhadap segala bentuk syahwat dan ambisi untuk memperolehnya, padahal hal ini merupakan rahasia kehancuran dan kebinasaannya.”


oleh itu marilah kita perbanyakkan zikir mengingati ALLAH swt kerana zikir itu adalah makanan hati 


wallahualam 


inshaalah ...

Saturday, 17 March 2012

0 Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat



Rasullallah saw bersabda "Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat .Cara membersihkannya adalah dengan mengingati ALLAHswt atau zikrullah"

"Qalbu berkarat kerana dua hal iaitu lalai dan dosa .Dan pembersihnya pun dengan dua hal iaitu istigfar dan zikrullah"

(HR.Ibnu Ab'id dun Al-Baihaqi)

A028
"(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah". Ketahuilah dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusia. 


A103
Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman) maka dirikanlah sembahyang itu (dengan sempurna sebagaimana biasa). Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunya.

(An-Nisaa' 4:103) 


A110
Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah nama " Allah" atau nama "Ar-Rahman", yang mana sahaja kamu serukan (dari kedua-dua nama itu adalah baik belaka); kerana Allah mempunyai banyak nama-nama yang baik serta mulia". Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.

(Al-Israa' 17:110)

aku berpesan kepada diri aku dan pembaca
sentiasalah kita mengingati ALLAH swt di dalam hati setiap masa dengan zikrullah atau solat

wallahhualam

inshaallah ...


Friday, 16 March 2012

0 kebersihan hati tercemar kerana



1-    Pemarah
Paling mudah dikesan atau dilihat dan paling banyak di dalam diri manusia. Orang seperti ini jarang mendapat kawan dan hati tentunya tidak terang.
 
2-    Pendendam
Tersembunyi ibarat mengumpul lahar di dalam dada. Orang seperti ini sentiasa mencari-cari peluang untuk membalas dendam hatta secara yang kecil-kecil sekalipun seperti sakitkan hati atau tempelak orang yang didendami itu. Sebab itu orang pendendam mudah kena sakit jantung.
 
3-    Hasad dengki
Amalanya hangus akibat hasad dengkinya itu kerana ia memiliki sifat ketuhanan.
 
4-    Bakhil
Sentiasa merasakan orang lain menginginkan harta, kesenangan, pangkat dan lain-lain dari dirinya. Contohnya sentiasa berdalih mengatakan ia tiada duit. Allah lebih sayang orang yang fasiq tetapi pemurah tetapi benci orang yang abid tetapi bakhil. Kerana walaupun fasiq, pemurahnya itu tetap memberi manfaat pada orang lain kerana kadangkala rezeki itu Allah beri melalui makhluk.
 
5-    Tamak
Orang yang tidak puas dengan yang sedikit nescaya tidak akan puas dengan yang banyak kerana dunia ini ibarat meminum air laut, walau berapa banyak yang diminum tetap tidak habis juga (lagipun orang tamak selalu rugi). Ingat! Yang dikatakan harta atau rezeki kita bila ia dipakai atau digunakan oleh kita. Selagi tidak diguna iaitu disimpan, itu belum boleh dikatakan rezeki kita (mungkin ada hak orang lain di situ). Biarlah rezeki itu sedikit tetapi mendapat keberkatan iaitu dapat dimanfaatkan.
 
6-    Tidak sabar
Andainya perkara yang kecil pun tidak boleh bersabar apatah lagi hal-hal yang lebih besar.
 
7-    Ego
Ibu segala mazmummah jadi ia membuatkan seseorang paling tidak tenang. Orang yang memiliki sifat ini pantang tercabar dari sudut zahir mahupun batin. Pasal semua orang ada egonya sendiri, cuma tinggi atau rendah tahap keegoan tersebut.
 
8-     Riak
Terseksa sendiri kerana sentiasa tercari-cari peluang untuk dipuji. Sentiasa berlakon-lakon di depan orang. Jika ia dipuji, ia akan menambah amalnya tetapi jika dikeji, ia akan mengurangkan amalnya. Allah marah kalau kita riak, takabbur dengan apar yang kita ada.
 
9-    Cinta Dunia
Tidak dapat menderita, dapat pun menderita kerana bila sudah dapat susah pula menjaganya. Berhartalah, tidak mengapa tetapi kawal hati jangan diletakkan pada harta itu (bila mati cuma bawa amalan dan doa anak yang soleh atau solehah). Cinta dunia merupakan 'neraka dunia' kerana dunia itu 'panas' akibat ia merupakan barang buruan dan rebutan. Jadi letakkanlah akhirat itu di hati dan dunia itu di tangan supaya dunia itu senang dibahagi-bahagi dan akhirat dibawa mati.
 

Kesimpulan
Jadi yang meragut kebahagiaan sebenarnya bukanlah secara totalnya disebabkan kemiskinan, musibah, kesibukan dan lain lainnya, tetapi ialah MAZMUMMAH. Makin tinggi mazmummah seseorang, makin ia tidak bahagia.
 
Samada bermujahadah atau biarkan saja mazmummah itu, kedua-duanya tetap menderita tetapi andainya bermujahadah kita akan dibantu Allah dan akan bahagia jua akhirnya. Sama-samalah kita sentiasa ingat mengingati antara satu sama lain, andai kita terleka dengan dunia buruklahh padahnya.
Langit yang tujuh dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucap tasbih bagi Allah; dan tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya; akan tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penyabar, lagi Maha Pengampun. (Al-Israa' 17:44)

aku adalah sepertimana sangkaan hambaku dan aku bersama denganya ketika ia mengingati aku .jika ia ingat kepada aku di dalam hatinya ,aku ingat kepadanya di dalam hati ku .dan jika ia ingat kepada ku di khalayak ramai ,nescaya aku pun ingat kepadanya dalam khalayak ramai yang lebih baik .dan jika ia mendekati kepada ku sejengkal ,aku pun mendekatinya sehasta .dan jika ia mendekati ku sehasta ,nescaya aku mendekatinya sedepa .dan jika ia datang kepada ku berjalan ,maka aku datang kepadanya sambil berlari
(hadis qudsi riwayat syaikhan dan tarmizi dari abu hurairah ra)

"(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah". Ketahuilah dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusia.(Ar-Ra'd 13:28)

Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan; dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu).(Al-Baqarah 2:152)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts

 

mencari kebenaran Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates