Thursday, 19 January 2012

0 ketahuilah walaupun ianya hanya solat sunat

Shalat sunat termasuk amalan yang mesti kita jaga dan rutinkan. Di antara keutamaannya, shalat sunat akan menutupi kekurangan pada shalat wajib. Kita tahu dengan pasti bahwa tidak ada yang yakin shalat lima waktunya dikerjakan sempurna. Kadang kita tidak konsentrasi, tidak khusyu’ (menghadirkan hati) , juga kadang tidak tawadhu’ (tenang) dalam shalat. Moga dengan memahami entri berikut ini semakin menyemangat kita untuk terus menjaga shalat sunat .


Pertama: Akan Menutupi Kekurangan pada Shalat Wajib

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ ».
Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426 dan Ahmad 2: 425. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Kedua: Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajat
Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-,  lalu aku berkata padanya, ‘Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga’.” Atau Ma’dan berkata, “Aku berkata pada Tsauban, ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah’.” Ketika ditanya, Tsauban malah diam.
Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً
Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim no. 488). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah dorongan untuk memperbanyak sujud dan yang dimaksud adalah memperbanyak sujud dalam shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 4: 205). Cara memperbanyak sujud bisa dilakukan dengan memperbanyak shalat sunnah.
Ketiga: Akan dekat dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga
Dari Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami -radhiyallahu ‘anhu- dia berkata,
كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Saya pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau berkata kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku hanya meminta agar aku bisa menjadi teman dekatmu di surga.” Beliau bertanya lagi, “Adakah permintaan yang lain?” Aku menjawab, “Tidak, itu saja.” Maka beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud (memperbanyak shalat).” (HR. Muslim no. 489)
Keempat: Shalat adalah sebaik-baik amalan
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ
Beristiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak dapat istiqomah dengan sempurna. Ketahuilah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat. Tidak ada yang menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah no. 277 dan Ahmad 5: 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Kelima: Menggapai wali Allah yang terdepan
Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah secara umum, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud wali Allah?
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا
Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 224). Jadi wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa” (Majmu’ Al Fatawa, 6: 10). Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan.
Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: (1) As Saabiquun Al Muqorrobun(wali Allah terdepan) dan (2) Al Abror Ash-habul yamin(wali Allah pertengahan).
As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.
Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.
Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14)
Apabila terjadi hari kiamat,tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya,maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14) (Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51)
Keenam: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ
Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506)
Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadits ke-38).

Tuesday, 17 January 2012

0 bagaimana jika kita dalam keadaan begini ...

Bilal Bin Rabah merupakan salah seorang hamba abdi yang memeluk agama Islam secara diam-diam. Dengan kuasa Allah SWT, dia tertarik untuk menerima ajaran Islam daripada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Pada asalnya, tiada siapa pun di kalangan kafir Quraisy tahu berita tentang keIslaman Bilal Bin Rabah. Bahkan Nabi Muhammad SAW sudah berpesan agar dia menyembunyikan keIslaman kerana dibimbangi akan menjadi mangsa seksaan kejam musyrikin Quraisy ketika itu. Ini kerana saat itu penyebaran Islam masih dalam period permulaan.


Namun begitu, rahsia keIslaman Bilal bin Rabah akhirnya terbongkar ke pengetahuan tuannya bernama Umayyah bin Khalaf. Setelah tuannya mendapat perkhabaran itu, maka marahlah dia sehingga bertindak menyiksa sekeras-kerasnya ke atas Bilal bin Rabah.
Lalu Umayyah bin Khalaf menjerut lehernya dengan tali yang panjang. Kemudian dia menyuruh budak-budak menariknya di atas padang pasir yang kering serta di simbahi terik mentari panas tak terkira. Bayangkan betapa peritnya kesakitan yang dialami Bilal bin Rabah ketika diperlakukan sebegitu.
Namun begitu, dia tetap setia pada yang satu. Dia tetap bertahan bersama agama Islam tanpa tergugat walau sedikit pun. Bibirnya tak lekang mengucap kalimah tauhid.
“Ahad! Ahad! Ahad!” (Yang bermaksud Allah yang satu)
Akan tetapi, penyeksaan itu seakan-akan tidak membawa perubahan ketara kepada Bilal bin Rabah. Bahkan tidak sedikit pun keimanannya tergugat dek penyiksaan dahsyat itu. Kemudian Umayyah menggandakan balasan terhadap Bilal bin Rabah. Dia mengikat kaki dan tangan Bilal bin Rabah dengan tali.
Setelah itu, Bilal bin Rabah dibawa ke tengah-tengah padang pasir lalu dijemur di situ tanpa rasa belas dan kasihan. Sedangkan saat itu padang pasir seolah-olah seperti tempat pemanggang daging yang meluap-luap panasnya. Andainya diletakkan apa jua daging di atasnya, sudah tentu akan menyebabkan ia masak merah menyala. Inikan pula tubuh seorang manusia bernama Bilal bin Rabah, sudah tentu memberi bekas yang tidak kurang pedihnya.
Tidak cukup dengan kaedah penyeksaan secara menjemur, Umayyah bin Khalaf bertindak ganas dengan meletakkan pula sebongkah batu besar lagi berat ke atas dada Bilal bin Rabah. Allahhu Rabbi! Sangat dahsyat seksaannya terhadap insan dhaif seperti Bilal bin Rabah. Dia hanya cuma berpegang teguh pada ad-Deen, tetapi disiksa seperti melakukan kesalahan berat.
“Ahad! Ahad! Ahad!” Itulah perkataan yang menjadi peneman Bilal bin Rabah tatkala diseksa berat tuannya. Tanpa sedikit pun merasa untuk menyekutukan Allah SWT dengan kembali kepada agama asal – yakni penyembahan berhala.
Kemudian Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal bin Rabah:
“Engkau tidak akan aku lepaskan daripada hukuman ini, melainkan engkau mahu mendustakan Muhammad. Dan engkau kembali menyembah tuhan-tuhan engkau dahulu – iaitu Lata dan Uzza itu.”
Bilal bin Rabah tetap tidak menjawab kata-kata tuannya itu, tetapi terus mengucapkan kalimah:
“Ahad! Ahad! Ahad!”
Akibat kuatnya pegangan Bilal bin Rabah terhadap agama Islam, maka Umayyah bin Khalaf terus menyeksa serta meninggalkannya dalam keadaan kelaparan tanpa diberi makan dan minum selama beberapa hari. Bilal bin Rabah tabah menerima siksaan itu biarpun badannya bagai disiat-siat rasa panas membahang, tanpa diberi makan dan minum, lalu terpaksa pula menahan cuaca sejuk bila malam bertandang.
Ditakdirkan Allah SWT, suatu hari melintaslah Saidina Abu Bakar as-Siddiq melalui tempat penyiksaan terhadap Bilal bin Rabah. Melihat keadaan yang berlaku, Saidina Abu Bakar meminta Umayyah bin Khalaf menjual Bilal bin Rabah kepadanya. Oleh kerana tuannya itu sudah jemu menyiksa Bilal bin Rabah, sedangkan dia tetap teguh kepada kepercayaan agama Islam maka dia dijual dengan harga beberapa dirham sahaja. Tidak lama kemudian, terbebaslah Bilal bin Rabah apabila Saidina Abu Bakar as-Siddiq memerdekakannya.
Rahsia Keteguhan Iman Bilal bin Rabah
Sabda Rasulullah SAW: “Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman (iaitu) Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai daripada selainnya, dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran (maksiat) sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim)
Melihat kepada keteguhan Iman Bilal bin Rabah, maka dapat kita kutip rahsianya melalui sepotong hadis Rasulullah SAW sebagaimana yang tercoret di atas.
Bilal bin Rabah sudah mencapai tahap di mana dia tidak lagi merasa pahit atau perit untuk mempertahankan keimanannya biarpun disiksa dengan dahsyat sekali. Inilah yang dinamakan Halawatul Iman. Halawatul Iman ini adalah bermaksud kemanisan Iman. Sesungguhnya, Bilal bin Rabah saat disiksa dia sudah mengecapi kemanisan Iman ini.
Kemanisan Iman tidaklah wujud ke dalam diri seseorang hamba itu, melainkan apabila rasa cintanya terhadap Azza Wajalla dan Rasul utusanNya itu melebihi apa yang ada seisi dunia. Nah, inilah kekuatan sebenar para sahabat Rasululullah SAW. Dia tidak hanya mengucapkan cinta di bibir sahaja, tetapi rasa cinta itu bagaikan menguasai seluruh tubuh jiwa dan raganya. Hinggakan apabila ditimpa ujian, dia tidak mengeluh kesakitan atau Imannya menguncup hingga lupa Tuhan.
Malah cinta para sahabat kepada Allah dan RasulNya telah diterjemahkan ke dalam kehidupan mereka. Mereka tetap setia bersama-sama Rasulullah SAW, seiring sejalan untuk mengemban dakwah dan menegakkan kalimah Allah SWT ke serata penjuru alam. Mereka tahan disiksa. Mereka tabah diperlakukan dan diperlecehkan musuh. Hidup dan mati mereka hanyalah untuk mendapat redha Allah, dan kasih Rasulullah SAW. Itulah kemanisan paling hebat yang mereka kecapi. Allahu Akbar!
Seterusnya ialah, perasaan cintanya kepada sesama Islam tidak lain tidak bukan tautannya adalah dengan tali Allah SWT. Maka apabila seseorang itu menyintai saudaranya kerana harta benda, itu bukanlah dinamakan ukhuwwahfillah. Begitu juga sekiranya seseorang lelaki atau wanita itu menyintai pasangannya (suami isteri) hanya semata-mata demi untuk menggapai redha Allah SWT, nescaya hubungan itu akan menyuburkan wangian keimanan dan menerbitkan sakinah (ketenangan), mawaddah (rasa kasih), dan rahmah (rasa sayang).
Bilal bin Rabah, adalah di antara sahabat yang cekal dan kental setia bersama Islam hingga akhir hayat. Biarpun disiksa dan diugut supaya kembali kepada kekufuran, kembali mensyirikkan Allah dengan menyembah berhala, tetapi keimanannya begitu menebal hingga sukar untuk dipujuk rayu atau disiksa lagi. Dia tidak tergugah walau sedikit pun. Laksana bahtera yang kuat sanggup menongkah arus dan samudera luas untuk menuju ke destinasinya. Inilah yang dinamakan kemanisan Iman.


Saturday, 14 January 2012

0 tips lagi jika inginkan ...

santai di hujung hujung minggu ni marilah kita 

cuba  praktikkan  pekara pekara di bawah dengan 

ikhlas

cubalah kita amalkan semampu yang mungkin 

dalam kehidupan seharian kita dengan ikhlas 

mudah mudahan kita sentiasa berada di dalam rahmat dan redha ALLAH swt apabila kita ikhlas

kerana janji ALLAH swt apabila kita tunaikan hak hakNya dengan ikhlas nescaya ALLAH swt akan tunaikan pula 

hak hak kita inshaallah ...

-makan dengan tangan kanan

-minum juga dengan tangan kanan

-buang air besar bercangkung

-buang air kecil bercangkung

-keluar dari rumah dengan kaki kanan dahulu berserta (bismilah hitawakkal tuallallah)

-memakai kasut kaki kanan dahulu

-hendak masuk ke tandas dengan kaki kiri

-keluar dari tandas dengan kaki kanan

-hendak masuk masjid dengan kaki kanan

-keluar dari masjid dengan kaki kiri

disamping kita mengingati ALLAH swt setiap masa didalam hati

cubalah tunaikan dan istiqomah dalam ibadah2 sunat seperti

-solat sunat dhuha

-solat malam

-puasa sunat isnin dan kamis selain bulan ramadhan
-membaca al quran ,menghayati dan amalkan dalam kehidupan

wallahhualam

inshaallah ...




Friday, 13 January 2012

0 nafsu jenis apa kita ni sebenarnya

"Siapa sahaja dari hamba hambaKu yang menunaikan jihad pada jalanKu kerana mengharap dan mencari keredhaanKu ,Aku jamin untuk mengambalikannya (jika ia Aku kembalikan) dengan segala apa yang didapatinya berupa pahala atau harta rampasan .Dan jika ia Aku matikan (dalam perang itu) ia akan Aku ampuni ,Aku beri rahmat dan Aku masukkan ke dalam syurga."

(hadis riwayat Tarmizi dan Tabrani dari Ibnu Umar)

Asal perkataan 'al jihad' ialah mengeluarkan segala kesungguhan ,kekuatan dan kesanggupan pada jalan yang diIKTIKADkan oleh manusia bahawa jalan itulah yang hak dan benar .Namun demikian perkataan 'al jihad' itu telah sering digunakan untuk makna perang sabil ,seumpama memerangi musuh musuh dan membela diri dari serangan dan ganguan mereka .

Ibnu Atsir (seorang ahli bahasa yang terkenal) telah menerenagkan dalam kitabnya ,An Nihayah bahawa : 'al jihad' ialah memerangi orang orang kafir dengan bersungguh sungguh ,menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka ,baik dengan perkataan mahupun perbuatan .

Al Ashfihani dalam kitabnya Mufradatul Quran menyebutkan makna yang lebih kurang demikian juga .

Ada pun cara cara jihad itu berbagai bagai ,kadang kadang dengan ucapan dalam usaha menyampaikan kata kata yang benar ,dengan harta dan kekayaan ,dan adakalanya juga dengan senjata dan jiwa .
Kerana itu nabi saw bersabda :

"Lakukanlah jihad terhadap orang orang kafir dengan lidah ,harta benda dan jiwa kamu"

Yang dimaksudkan dengan 'jalan ALLAH' (sabillillah) ialah jalan yang telah digariskan ALLAH dan disyariatkan kepada hambaNya untuk dijalankan dan beribadat dalam batas batas yang  telah ditentukan olehNya itu ialah perintah perintah dan larangan laranganNya  .Antara 'jihad' dengan 'fisabilillah' terdapat hubungan yang sangat erat .

Adapun jihad ada dua iaitu :

1-Jihad asghar (kecil) ,iaitu memerangi orang orang kafir .Jihad memerangi orang orang kafir ini
    disebut jihad kecil meskipun terjadi pertempuran dan pertumpahan darah yang begitu dasyat
    dalam pandangan mata manusia .Orang yang gugur dalam jihad asghar tergolong dalam mereka
    yang mati syahid .

2-Jihad akhbar ,iaitu memerangi hawa nafsu .pengertian ini didasarkankepada hadis nabi saw :

    "Kita sekarang kembali dari jihad asghar (jihad kecil) (kembali dari perang Badar/Uhud)
     kepada jihad akhbar (jihad besar) ,iaitu jihad memerangi hawa nafsu."

Di dalam al quran dikemukakan berbagai bagai jenis nafsu yang disebut :

1-An nafsu Amarah bisu' yang selalunya mendorong seseorang untuk melakukan dosa dan kejahatan .
2-An nafsu Lawwamah ,iaitu hawa nafsu yang sering menyesali diri

3-An nafsu Sawwalah ,iaitu hawa nafsu yang seringkali menggambarkan dan menghiaskan sesuatu
   maksiat atau kejahatan menjadi indah dalam pandangan manusia atau khayalannya .

4-An nafsu Mulhamah ,iaitu hawa nafsu yang sering mendorong tingkah laku kederhakaan
   dan ketakwaan .

Di samping itu di dalam al quran dikemukakan juga tiga jenis nafsu lain yang disebut :

5-An nafsu Muthmainnah

6-An nafsu Radhiah

7-An nafsu Mardhiyah

Ketiga jenis nafsu yang disebut terakhir ini ialah An nafsu Muthmainnah ,An nafsu Radhiah dan An nafsu Mardhiyah diharap agar dipelihara ,dan hendaklah berusaha agar terhindar dari empat jenis nafsu yang disebutkan terdahulu iaitu An nafsu Amarah bisu' ,An nafsu Lawwamah ,An nafsu Sawwlaah dan An nafsu Mulhamah .

sumber hadis qudsi bab 2 Berjihad Di Jalan ALLAH ms9-12


Thursday, 12 January 2012

0 apabila dangkal tapi sombong

aku bukan mat rempit tapi aku minat 'riding' terutamanya motorsikal berkuasa tinggi
pernah dulu ketika menunggang motorsikal aku terlibat dalam kemalangan jalanraya
terok boleh tahan jugak la keadaan aku
muka aku retak sebelah alhamdulilah syukur aku masih hidup

ekoran daripada kemalangan itu aku dapat wang perlindungan daripada syarikat insuran yang di beli
ada la dalam 10k lebih kurang
jadi berbekalkan wang tersebut aku memulakan perniagaan kecil kecilan dikampung

perniagaan aku meningkat naik sedikit demi sedikit
kebetulan pula pada masa itu aku dah mula menjinakkan diri dengan solat
jadi aku rasa seronok sangat kerana walaupun aku tak pernah berniaga dan tak ada pengalaman
tetapi rezeki aku murah

ku sangka panas hingga ke petang
rupanya hujan ditengah hari

rupanya rupanya semua itu tidak berkekalan
rezeki aku sedikit demi sedikit di tarik
perniagaan semakin merosot
bahan bahan mentah untuk di jual banyak di buang
makin lama makin banyak modal kena di keluarkan daripada memperolehi untung

aku dah mula hilang pertimbangan
jadi lepas berniaga aku berbual dengan seorang kawan yang sama sama berniaga dikawasan itu
kawan aku tu latarbelakangnya islamik berbeza dengan aku yang jahil agama
jadi aku menyuarakan ketidakpuasan hati aku mengenai keadaan perniagaan aku pada kawan aku tu
memang jahil sungguh sungguh aku ni bukan main main punya jahil agama
hinggakan aku sanggup salahkan ALLAH swt kerana menarik rezeki aku
alasan aku kenapa sekarang bila aku dah mula jaga solat rezeki aku di tarik pula
macam macam kawan aku tu nasihatkan aku
tetapi aku tak boleh terima kerana kesal yang amat sangat terhadap ALLAH swt

lalu aku mengambil keputusan untuk berjumpa dengan tok bomoh
kerana aku beranggapan pada masa itu bahawa aku dah terkena buatan orang yang iri hati dengan perniagaan aku yang meningkat maju
dan macam biasa lah tok bomoh pun kata aku dah terkena buatan orang
tok bomoh itu pun beri lah air ,garam apa lagi tah aku tak ingat untuk di tabur sebagai pagar didepan gerai aku
aku pun dengan bangangnya dalam kesyirikkan menurut sahaja apa yang di perintahkan oleh tok bomoh
dalam seminggu juga la aku buat pekara tak senonoh tu
dan keputusannya perniagaan aku tak juga bertambah maju selepas itu

selang dua tiga bulan selepas menuruti arahan tok bomoh
akhirnya aku tak mampu lagi nak menanggung rugi dan akhirnya aku tamatkan perniagaan dalam keadaan aku masih tidak sedarkan diri bahawa sebenarnya aku berputus harap dengan ALLAH swt

dan sekarang apabila aku terkenangkan pekara itu aku rasa teramat malu dengan ALLAH swt terutamanya dan dengan kawan aku yang nasihat kerana betapa dangkalnya ilmu agama aku ketika itu
hingga sekarang jika aku jumpa kawan aku tu dia akan sindir aku 'masih marah pada ALLAH ?'

itulah akibatnyakan jika dangkal agama lepas tu sombong pulak tak mahu terima teguran
mana dengan menyukutukan ALLAH swt lagi pergi jumpa bomoh
bukannya nak solat hajat mintak bantuan daripada ALLAH swt
siap dengan sifat kecewa putus asa semua cukup

itulah akibatnya apabila hati tidak pernah mengingati ALLAH swt
jika solat pun sekadar rutin bukannya kerana hendak merendahkan diri dihadapan ALLAH swt
oleh itu marilah kita sama sama perbanyakkan mengingati ALLAH swt dengan zikrullah dan pekara pekara sunat disamping sentiasa memelihara niat lilahhi ta'ala dalam setiap perbuatan

wallahhualam

insyallah ...

jangan segan jika ingin memberi komen
Langit yang tujuh dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucap tasbih bagi Allah; dan tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya; akan tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penyabar, lagi Maha Pengampun. (Al-Israa' 17:44)

aku adalah sepertimana sangkaan hambaku dan aku bersama denganya ketika ia mengingati aku .jika ia ingat kepada aku di dalam hatinya ,aku ingat kepadanya di dalam hati ku .dan jika ia ingat kepada ku di khalayak ramai ,nescaya aku pun ingat kepadanya dalam khalayak ramai yang lebih baik .dan jika ia mendekati kepada ku sejengkal ,aku pun mendekatinya sehasta .dan jika ia mendekati ku sehasta ,nescaya aku mendekatinya sedepa .dan jika ia datang kepada ku berjalan ,maka aku datang kepadanya sambil berlari
(hadis qudsi riwayat syaikhan dan tarmizi dari abu hurairah ra)

"(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah". Ketahuilah dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusia.(Ar-Ra'd 13:28)

Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan; dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu).(Al-Baqarah 2:152)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Popular posts

 

mencari kebenaran Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates